Postingan

Mantra Menulis - Episode 8

     Salah satu cara terbaik untuk meraih keabadian di dunia yang fana ini adalah dengan menciptakan satu legasi, warisan, jejak, yang harap-harap bisa disusuri orang lain di lain waktu guna membantu bagaimana cara untuk menikmati hidup yang   one take  ini.       Narsis? Mungkin. Tapi lebih kepadai ingin tetap hidup, meskipun sudah mati. Dan salah satu cara terbaik untuk meraih keabadian itu, agar nama, cara pandang, produk, karya, hal-hal yang ingin disampaikan, kekesalan, keresahan, keinginan dan impian, bisa tetap berkeliaran mencari hilirnya adalah dengan menulis. Menulis apa pun itu. Kayak begini.      Banyak yang berpikir bahwa menulis adalah bakat magis, anugerah langit yang hanya turun pada segelintir orang terpilih. Padahal, menulis lebih sering soal belajar melihat dunia dengan cara yang berbeda. Ini tentang melatih mata untuk menemukan keajaiban. Ada dua lensa utama yang bisa kita pakai: lensa seorang pengamat jalan...

Tukang Tipu - Episode 7

    Aku mau pamer. Aku punya rekor. Rekor yang sangat tidak penting dan tak perlu dikejar oleh siapa pun. Rekor ini sudah kupahat sejak aku SD, jadi aku anggap ini rekor. (Atau portofolio? Catatan kriminal? Ya ya ya, something like that. Wkwkwk)    Sebelum pamer yang itu, aku mau pamer yang lain dulu.     Aku ini tergolong murid pintar. Akademiknya aja, sih. Selalu menduduki podium teratas, walau seingatku aku gak pernah di nomor satu, sih. Eh, pernah deng. Pas kelas satu SD. Aku lupa. Tapi kayaknya iya pas kelas satu.     Pintarku bukan karena rajin seperti halnya kebanyakan orang pada masa interval sebelum masuk periode ujian sekolah selalu belajar dan merekonsiliasi pelajaran-pelajaran.     Aku tipikal yang ketika masuk waktu belajar, aku fokus. Mencatat. Sepulang sekolah, mencari besi-besi semacam paku, kepingan plat, dan sejenisnya di jalan dan bengkel-bengkel kecil untuk dijual, hasil penjualan langsung digunakan unt...

Merasa - Episode 6

   Semoga ini bukan kelakuan semua laki-laki, tapi aku, wabil khusus, selalu buruk soal percintaan. Cinta yang bukan hanya soal asmara, tapi lebih tepatnya soal mengenali dan mengolah perasaan seperti apa input dan outputnya. Ya soal asmara juga sih, wkwkwk.    Entah sejak kapan, kurasa sejak aku kecil, rasa main-main dan penasaranku selalu lebih besar dan tua ketimbang usiaku sendiri. Apa karena aku anak terakhir? Sehingga sense of responsibility-nya minim sekali. Aku tak tahu.    Aku sulit merasa. Aku sulit peka. Aku sulit meraba. Aku sulit mengambil tindakan pada tempo yang cepat. Aku sulit menangis. Aku mudah tertawa. Apa ini? Gila?     Kebiasaan untuk mengenal rasa cinta tidak aku alami, seingatku. Atau tanpa mengurangi rasa hormatku kepada keluargaku, minim sekali memori yang kuingat terkait itu. Identifikasi rasa cinta yang kudapat adalah cinta itu tabu, alay, aneh, memalukan, "tidak laki", yang berujung pada hatiku yang kini kurasa me...

Bedebah - Episode 5

     Ketimbang terus-terusan tertelungkup dalam keterpurukan, ketimbang menghabiskan waktu untuk meludahi kejadian-kejadian di masa silam, ketimbang selalu menjadikan orang lain sebagai objek untuk disalahkan, akhir-akhir ini aku sudah harus menyudahi aktifitas tak produktif itu dan berhenti berpikiran seperti bedebah lagi. Berani dan jujur mengungkapkan bahwa yang sudah, ya sudah, kemudian memroses dan merancang  what next merupakan bentuk syukur atas nikmat berupa hidup dan perangkat pendukung hidup yang sudah Tuhan berikan kepadaku, dan itu sedang kuusahakan.     Aku kecil adalah aku yang sering mendapat stimulasi nilai dan moral dari luar ; sekolah, tongkrongan, mama A'raf, Haji Soleh, dan lain-lain. Betul, hal-hal yang tidak sempat aku dapatkan di rumah karena orang tua saat itu menyayangi dan mendidikku dengan cara lain, cara mereka sendiri. Cukup sparta memang. Sangat berdampak pada psikologisku hingga saat ini. Ma, Pak, aku sayang kalian. Sehi...

Dari Sepatu Ke Sepatu - Episode 4

     Kamu pernah bayangkan berapa banyak lelah yang tersandar di pojok-pojok kereta, bahkan sampai ke tengah dan ujung kereta. Dalam kabin yang penuh dengan cita-cita, penyesalan, bahagia juga lelah yang menjadi rutinitas senin-jum'at.       Mereka yang berpakaian formal, lengkap dengan laycard dengan cepat pasti yang kita pikir "pekerjaan mereka enak dengan gaji besar" ya, kita hanya bisa melihat sekilasnya saja tanpa tau seberdarah apa dia di posisi itu.  Sepatu yang menopangnya pun kalau bisa menjerit kesakitan mungkin akan menjerit. Tentang bagaimana mereka harus bangun lebih awal sebelum matahari terbit,  meninggalkan anak yang masih terlelap, memastikan beras masih tersedia paling tidak seminggu ke depan.       Para ayah dan anaknya adalah potret yang sangat hangat selama kutemui di kabin kereta, kadang aku iri dengan mereka yang bisa begitu dekat dengan ayahnya sedang aku sendiri bahkan lupa kapan terakhir kusebut ...

Datang Dan Pergi - Episode 3

      Menariknya, dalam hidup kita gak bisa milih sama siapa akan bertemu/menetap semua seperti misterybox yang kita buka satu persatu.        'Perkenalan' adalah gerbang di mana manusia satu dan manusia lain saling memahami satu sama lain.  Saling bertukar pengalaman juga sedih-senang masing-masing awal di mana hubungan-hubungan yang erat itu dimulai.       Fase mengenal manusia itu perjalanan yang sangat panjang. Butuh waktu. Kadang melelahkan tapi juga seru dan menyenangkan, kadang menjengkelkan barangkali itu bahasa cinta Tuhan memperkenalkan karya-Nya yang disebut 'manusia'.     'Kehilangan' adalah hal klise yang sampai sekarang yang kalau diceritakan berulang kalipun rasa sakitnya masih sama. Manusia memang sulit melepaskan hal yang menurutnya familier juga melekat.  Amigdala seolah mengamuk,  menerkam kenyataan yang ada. Tapi yang paling sulit adalah menerima sesuatu yang hilang bukan hak milik....

Surat Alay - Episode 2

    Tuhan     Ternyata aku hanya manusia dan hamba yang lemah, ya.     Oleh hal-hal yang terjadi dan yang belum terjadi, dengan sikap dramatis kelas kakap aku memvonis diriku sebagai korban dari kejahatan dunia yang tak adil dan kejam. Maafkan aku, Tuhan, aku alay . Maafkan aku, karena sering lupa kalau aku adalah hamba dari Yang Maha Kuat dan Maha Penyayang. Aku sering lupa, kalau ternyata aku tidak pernah sendiri. Aku sering lupa, kalau ternyata aku tidak pernah kehilangan tempat bernaung. Lantas, kenapa aku khawatir? Kenapa aku gusar? Kenapa aku terkulai lesu?      Maafkan aku, karena sering tak menyadari cara-cara-Mu menguatkan dan menyayangiku.     -Vijan