Bedebah - Episode 5
Ketimbang terus-terusan tertelungkup dalam keterpurukan, ketimbang menghabiskan waktu untuk meludahi kejadian-kejadian di masa silam, ketimbang selalu menjadikan orang lain sebagai objek untuk disalahkan, akhir-akhir ini aku sudah harus menyudahi aktifitas tak produktif itu dan berhenti berpikiran seperti bedebah lagi. Berani dan jujur mengungkapkan bahwa yang sudah, ya sudah, kemudian memroses dan merancang what next merupakan bentuk syukur atas nikmat berupa hidup dan perangkat pendukung hidup yang sudah Tuhan berikan kepadaku, dan itu sedang kuusahakan.
Aku kecil adalah aku yang sering mendapat stimulasi nilai dan moral dari luar ; sekolah, tongkrongan, mama A'raf, Haji Soleh, dan lain-lain. Betul, hal-hal yang tidak sempat aku dapatkan di rumah karena orang tua saat itu menyayangi dan mendidikku dengan cara lain, cara mereka sendiri. Cukup sparta memang. Sangat berdampak pada psikologisku hingga saat ini. Ma, Pak, aku sayang kalian. Sehingga, kalau kupikir baik-baik, keluarga itu (maaf kalau analoginya blo'on) ibarat bass (aku main gitar soalnya), yang akan menjadi bantalan serta jiwa yang bisa melatarbelakangi melodi, sehingga produksi suaranya sangat nyaman dan hangat, dan kehidupan di luar lingkungan keluarga adalah melodinya di mana pengalaman baru, cara bersosialisasi, memandang reputasi dan karir, serta menambah relasi membuat gitar sanggup mengeluarkan suara apa saja, di mana saja. Nah, aku hanya mendapat pelajaran berupa melodi, sayangnya, aku tak mengerti cara memainkan bass.
Yang ingin kucoba sampaikan adalah, dengan lompatan belajar seperti itu, menjadikanku sosok yang a-b-c-d, tapi kosong. Akumulasi dari proses tumbuh kembang seperti itu menjadikanku seorang bedebah yang digemari segelintir orang. Kuakui, status bedebah yang kususun saat itu cukup membuatku menjadi seseorang yang tangguh, padahal sebetulnya rapuh. Sebuah studi yang diterbitkan dalam "Journal of Child Psychology and Psychiatry" menemukan bahwa anak-anak yang mendapat dukungan emosional dan lingkungan positif dari orangtuanya memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih tinggi. Mereka, anak-anak, juga cenderung memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik serta keterampilan sosial yang lebih berkembang. Begitu kata studi menyebutkan. Ya itulah alasan kenapa aku jadi bedebah.
Ma, Pak, anakmu yang bedebah ini sedang mencoba untuk merapikan kembali dan mengejar ketertinggalan atas apa yang dulu tak sempat dikerjakan. Titip do'a, ya.
- Vijan
Komentar
Posting Komentar