Tukang Tipu - Episode 7

   Aku mau pamer. Aku punya rekor. Rekor yang sangat tidak penting dan tak perlu dikejar oleh siapa pun. Rekor ini sudah kupahat sejak aku SD, jadi aku anggap ini rekor. (Atau portofolio? Catatan kriminal? Ya ya ya, something like that. Wkwkwk)

   Sebelum pamer yang itu, aku mau pamer yang lain dulu. 

   Aku ini tergolong murid pintar. Akademiknya aja, sih. Selalu menduduki podium teratas, walau seingatku aku gak pernah di nomor satu, sih. Eh, pernah deng. Pas kelas satu SD. Aku lupa. Tapi kayaknya iya pas kelas satu. 

   Pintarku bukan karena rajin seperti halnya kebanyakan orang pada masa interval sebelum masuk periode ujian sekolah selalu belajar dan merekonsiliasi pelajaran-pelajaran. 

   Aku tipikal yang ketika masuk waktu belajar, aku fokus. Mencatat. Sepulang sekolah, mencari besi-besi semacam paku, kepingan plat, dan sejenisnya di jalan dan bengkel-bengkel kecil untuk dijual, hasil penjualan langsung digunakan untuk rental PS. Bareng temen-temen, tentunya. 

   Jadi, sebelum ujian pun aku melakukan hal yang sama. Main. Tapi aku pintar. Ya, kamu bisa bertanyaku seputar apa pun, termasuk perbedaan rukun dan syarat sah salat dan apa-apa saja isinya. Aku yakin, ini bukan antinomi. Pasti banyak yang seperti itu di luar sana. Itu satu, aku pintar.

   Kedua, aku pamer, di sepanjang karir sekolahku, aku pembolos andal. Jumlah bolosku terlalu banyak. Paling sering nyaliwang juga. (Nyaliwang itu bahasa Sunda, kurang lebih artinya kayak beda sendiri di antara yang lain gitu. Tapi tendensinya, kayaknya agak negatif, sih. Aku gatau. Aku bukan Sundais tulen.)

   Tapi poinnya bukan di sana. Aku ini tukang tipu yang berpengalaman. Aku bisa beralasan tanpa dicurigai esoknya, dan melakukan hal itu lagi di kemudian hari tanpa dicurigai esoknya. Aku bisa berbohong tanpa harus membuat orang mengernyitkan dahi. Dan menipu juga memerlukan kemampuan serta reputasi sebagai pondasinya. Karena beberapa temanku mencoba hal yang sama, tapi hasilnya selalu buruk. 

   Oke, selesai. Poinnya bukan itu. 

   Poinnya adalah, sampai detik ini, aku tetap jadi tukang tipu. Cerita di atas penuh kebohongan, ditambah-tambahi, dikurang-kurangi demi kepentingan "keren." Aku, merasa bahwa ini sepertinya bukan hal yang patut dilestarikan. Aku sulit jujur untuk hal-hal yang kuanggap sebenarnya tak masalah kalaupun aku jujur dan terbuka. Aku jadi ringan sekali berbohong, tanpa berpikir bahwa itu lebih banyak keburukannya ketimbang kebaikannya. Terlalu banyak, terlalu sering, terlalu ringan. 

   Pelan-pelan, ketika jujur, aku merasa tak ada yang perlu kutakuti. Tak mesti bersembunyi dan memayungi diri di bawah bayang-bayang kebohongan. Tenang. Aku merasa, jujur itu bukan opsi, itu adalah cara hidup. Dan hidup membawa kejujuran sangat pantas untuk dijalani. 

   Gila, keren gak? 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hak Asasi Bernama "Mimpi" - Episode 9

Durhaka Kepada Waktu - Sebuah Prolog