Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Hak Asasi Bernama "Mimpi" - Episode 9

      Agak panjang, mari kita bahas sesuatu yang menjadi   drive  hampir semua orang di hamparan Bumi, yaitu mimpi.    Umurku sekarang 24. Aku masih kuliah, semester akhir. Aku belum menikah. Belum punya banyak uang. Masih belum berhasil di banyak hal, masih banyak kecerobohan di banyak hal, masih bergumam pada banyak hal, dan banyak pelajaran dari masa lalu yang belum berhasil kuolah menjadi sesuatu yang menggiringku ke arah yang lebih baik.     Beberapa orang, yang kukenal dan atau mengenalku, sering melihatku seperti 'sesuatu' yang menarik mereka untuk lebih dekat denganku. Meski bibirku akan mengatakan hal yang buruk tentangku sendiri karena malas jika dibebankan ekspektasi di awal, aku juga tak ingin mengabutkan kemampuan-kemampuan yang kupunya, karena itu tetap perjalanan panjang yang nanti akan kuserahkan pada malaikat untuk dinilai. Dengan segenap perasaan dan usaha, aku akan mencoba membantu sebanyak-banyaknya orang, memberi kes...

Mantra Menulis - Episode 8

     Salah satu cara terbaik untuk meraih keabadian di dunia yang fana ini adalah dengan menciptakan satu legasi, warisan, jejak, yang harap-harap bisa disusuri orang lain di lain waktu guna membantu bagaimana cara untuk menikmati hidup yang   one take  ini.       Narsis? Mungkin. Tapi lebih kepadai ingin tetap hidup, meskipun sudah mati. Dan salah satu cara terbaik untuk meraih keabadian itu, agar nama, cara pandang, produk, karya, hal-hal yang ingin disampaikan, kekesalan, keresahan, keinginan dan impian, bisa tetap berkeliaran mencari hilirnya adalah dengan menulis. Menulis apa pun itu. Kayak begini.      Banyak yang berpikir bahwa menulis adalah bakat magis, anugerah langit yang hanya turun pada segelintir orang terpilih. Padahal, menulis lebih sering soal belajar melihat dunia dengan cara yang berbeda. Ini tentang melatih mata untuk menemukan keajaiban. Ada dua lensa utama yang bisa kita pakai: lensa seorang pengamat jalan...

Tukang Tipu - Episode 7

    Aku mau pamer. Aku punya rekor. Rekor yang sangat tidak penting dan tak perlu dikejar oleh siapa pun. Rekor ini sudah kupahat sejak aku SD, jadi aku anggap ini rekor. (Atau portofolio? Catatan kriminal? Ya ya ya, something like that. Wkwkwk)    Sebelum pamer yang itu, aku mau pamer yang lain dulu.     Aku ini tergolong murid pintar. Akademiknya aja, sih. Selalu menduduki podium teratas, walau seingatku aku gak pernah di nomor satu, sih. Eh, pernah deng. Pas kelas satu SD. Aku lupa. Tapi kayaknya iya pas kelas satu.     Pintarku bukan karena rajin seperti halnya kebanyakan orang pada masa interval sebelum masuk periode ujian sekolah selalu belajar dan merekonsiliasi pelajaran-pelajaran.     Aku tipikal yang ketika masuk waktu belajar, aku fokus. Mencatat. Sepulang sekolah, mencari besi-besi semacam paku, kepingan plat, dan sejenisnya di jalan dan bengkel-bengkel kecil untuk dijual, hasil penjualan langsung digunakan unt...

Merasa - Episode 6

   Semoga ini bukan kelakuan semua laki-laki, tapi aku, wabil khusus, selalu buruk soal percintaan. Cinta yang bukan hanya soal asmara, tapi lebih tepatnya soal mengenali dan mengolah perasaan seperti apa input dan outputnya. Ya soal asmara juga sih, wkwkwk.    Entah sejak kapan, kurasa sejak aku kecil, rasa main-main dan penasaranku selalu lebih besar dan tua ketimbang usiaku sendiri. Apa karena aku anak terakhir? Sehingga sense of responsibility-nya minim sekali. Aku tak tahu.    Aku sulit merasa. Aku sulit peka. Aku sulit meraba. Aku sulit mengambil tindakan pada tempo yang cepat. Aku sulit menangis. Aku mudah tertawa. Apa ini? Gila?     Kebiasaan untuk mengenal rasa cinta tidak aku alami, seingatku. Atau tanpa mengurangi rasa hormatku kepada keluargaku, minim sekali memori yang kuingat terkait itu. Identifikasi rasa cinta yang kudapat adalah cinta itu tabu, alay, aneh, memalukan, "tidak laki", yang berujung pada hatiku yang kini kurasa me...