Mantra Menulis - Episode 8

    Salah satu cara terbaik untuk meraih keabadian di dunia yang fana ini adalah dengan menciptakan satu legasi, warisan, jejak, yang harap-harap bisa disusuri orang lain di lain waktu guna membantu bagaimana cara untuk menikmati hidup yang one take ini. 

    Narsis? Mungkin. Tapi lebih kepadai ingin tetap hidup, meskipun sudah mati. Dan salah satu cara terbaik untuk meraih keabadian itu, agar nama, cara pandang, produk, karya, hal-hal yang ingin disampaikan, kekesalan, keresahan, keinginan dan impian, bisa tetap berkeliaran mencari hilirnya adalah dengan menulis. Menulis apa pun itu. Kayak begini.

    Banyak yang berpikir bahwa menulis adalah bakat magis, anugerah langit yang hanya turun pada segelintir orang terpilih. Padahal, menulis lebih sering soal belajar melihat dunia dengan cara yang berbeda. Ini tentang melatih mata untuk menemukan keajaiban. Ada dua lensa utama yang bisa kita pakai: lensa seorang pengamat jalanan yang jenaka dan ceplas-ceplos, dan lensa seorang pemimpi romantis yang intelektual.

    Cuitan ini bukan buku pelajaran yang kaku. Anggap saja ini obrolan di warung kopi, sebuah perjalanan bersama untuk memahami bagaimana kata-kata bisa membangun dunia, merebut hati, dan kadang, sekadar membuat kita tersenyum di tengah hari yang penat. Sebab, banyak penulis pemula terjebak dalam dilema besar: haruskah menulis dengan sederhana dan langsung, dengan gaya tutur yang membumi, atau mencoba merangkai kalimat puitis dan megah yang melangit? Ketakutan untuk terdengar sok puitis membuat kalimat jadi kaku, sementara ketakutan terdengar biasa saja membuat tulisan jadi hambar. Artikel ini akan menunjukkan bahwa kedua gaya itu bukanlah kutub yang berlawanan, melainkan dua kekuatan yang saling melengkapi. Keduanya bisa hidup berdampingan, bahkan di dalam satu paragraf yang sama, untuk menciptakan suara yang unik dan otentik.

BAB I : CARA MENCARI IDE

    Dulu, aku hampir kena gendam gara-gara sering bengong, sering meleng. Di warteg, abis kelar makan, bengong. Nunggu tukang nasi goreng masak jam 11 malem, bengong. Kena lampu merah, bengong. Lagi bengong, bengong. Semua itu disengaja karena aku sedang mencoba meluncurkan pikiranku ke angkasa, siapa tahu menemukan hal-hal menarik nun di atas sana. Beberapa kali dapat inspirasinya, tapi ketika mulai diramu dalam bentuk tulisan pada konteks tertentu, seringkali tak terpakai karena kurang membumi. Kurang relevan. 

    Sampai aku tak sengaja melihat video Youtube, Andrea Hirata (penulis novel Laskar Pelangi) ketika tengah diwawancara terkait novel atau kepenulisan (kalau gak salah inget). Bang Andrea bilang,

    "Cara mencari ide adalah dengan berpikir positif pada apa yang dilihat di sekitar kita." (kurang lebih begitu, aing lupa)

    Itu artinya, apa yang kita lalui ketika motoran di sore hari, apa yang kita tonton, apa yang kita simak dari media sosial, tingkah-tingkah aneh dari teman-teman kita, adalah sumur yang akan selalu ada airnya, selama kita mau menimba.

BAB II : TIPS MENULIS

    Gak ada. Tips menulis cuma satu ; TULIS!

BAB III : MENYEMPURNAKAN TULISAN

    Periode-periode awal menulis gak bakal selalu bagus. Pasti ada metafora yang aneh, majas yang gak    nyambung, pilihan kata yang kaku, kalau konteksnya cerita nanti ceritanya bakal kayak labirin, macem-macem. Gapapa. Asal gak berhenti nulis, gak bakal kalah juga. 

    Nulis itu paling enak kalo datengnya dari keresahan, kegelisahan, dan semacamnya. Kerasahan akan diri sendiri, mungkin. Pemerintah, mungkin. Kegelisahan karena ada yang ingin disampaikan agar orang lain tahu lebih cepat, mungkin. Setidaknya menurutku begitu. 

    Urusan salah ketik, itu dilakuin pas udah kelar nulis. Jangan dikit-dikit edit. Baru separagraf, terpana sama tulisan sendiri, ngerasa kurang di sini, tambahin di situ, ganti diksi ini, pakai logika itu, dsb. Kelakuan kayak gitu pasti hampir dirasain sama semua penulis, dan mereka juga pelan-pelan memperbaiki bahwa penulis itu penulis, edit tulisan itu datang setelah menulis. 

    Oke cukup. Kali ini agak sok iye, ya? Wkwkw

    Tapi ini juga salah satu bentuk keresahanku karena aku sebenarnya pemalas semester 10. Malas kalau gak ada mood, malas kalau gada device, malas kalau waktu yang biasanya kugunakan buat menulis lagi tidak tersedia, malas kalau udah kelamaan malas. Pokoknya pemalas! Aku juga nulis ini karena aku lagi malas. Udah ah!

    - Vijan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hak Asasi Bernama "Mimpi" - Episode 9

Tukang Tipu - Episode 7

Durhaka Kepada Waktu - Sebuah Prolog