Dari Sepatu Ke Sepatu - Episode 4
Kamu pernah bayangkan berapa banyak lelah yang tersandar di pojok-pojok kereta, bahkan sampai ke tengah dan ujung kereta. Dalam kabin yang penuh dengan cita-cita, penyesalan, bahagia juga lelah yang menjadi rutinitas senin-jum'at.
Mereka yang berpakaian formal, lengkap dengan laycard dengan cepat pasti yang kita pikir "pekerjaan mereka enak dengan gaji besar" ya, kita hanya bisa melihat sekilasnya saja tanpa tau seberdarah apa dia di posisi itu. Sepatu yang menopangnya pun kalau bisa menjerit kesakitan mungkin akan menjerit. Tentang bagaimana mereka harus bangun lebih awal sebelum matahari terbit, meninggalkan anak yang masih terlelap, memastikan beras masih tersedia paling tidak seminggu ke depan.
Para ayah dan anaknya adalah potret yang sangat hangat selama kutemui di kabin kereta, kadang aku iri dengan mereka yang bisa begitu dekat dengan ayahnya sedang aku sendiri bahkan lupa kapan terakhir kusebut panggilan itu. Sepatu ayah yang menggores kakinya setiap bekerja sakitnya tak terasa saat melihat raut anaknya yang gembira diajak berkeliling kota naik kereta.
Para lansia dengan senyum senjanya. Aku suka sekali mengobrol dengan mereka, entah di kereta atau di mana pun itu mereka selalu jadi objekku memulai obrolan. Mata mereka selalu berbinar saat mengobrol, tanda mereka kesepian. Ternyata sebagian besar mereka hanya ingin didengar. Rasa kehilangan tak melulu tentang mereka yang telah tiada, bisa juga mereka yang telah menjauh jadi pukulan terbesar sebagian orang. Mereka yang lansia tidak peduli sekusam apa sepatu-sepatu yang mereka kenakan karena tak ada yang lebih menarik dari melihat senyum anaknya di depan pintu untuk pulang.
Ada mereka yang berseragam sekolah, rasanya matematika di pagi hari itu sangat membuat ngantuk dan membosankan bukan?! Mengerjakan PR setiap hari, seolah makanan yang tak pernah habis. Tapi saat 17 di mana saat-saat rasa takut tak pernah mengganggu. Senang bisa berkumpul dengan teman dan bercanda adalah salah satu bertahan hidup terbaik sih di tengah sulitnya matematika. Sepatu mereka penuh kenangan hangat penopang untuk melangkah menuju beranjak dewasa.
Ada yang berseragam putih-hitam formal lengkap dengan amplop coklat sering kali kulihat bersandar di tiang-tiang kereta. Dengan keputus asaan mereka gagal melamar kerja sedangkan di rumah ada yang menunggu kabar 'diterima' ayah dan ibu, mereka harus bilang apa? Apakah ayah dan ibu akan mengerti, takut mereka kecewa. Tak jarang dari mereka tertidur di kabin kereta tanda mengistirahatkan sepatunya yang sudah lama diajak berkeliling sejak pagi.
Dari sepatu ke sepatu, kita tak pernah sadar bagaimana kita satu sama lain menopang luka juga kesakitannya masing-masing. Kalau sepatu itu bisa dilihat seberapa banyak beban yang pernah ia topang barangkali ia akan bilang 'menyerah'.
Urip iku sawang-sinawang. Aku suka sekali dengan filosofi Jawa ini, selalu kupegang. Hidup itu saling memandang satu sama lain. Kita selalu memandang orang lain hidupnya enak belum tentu kenyataannya seperti itu, dan orang lain mungkin akan memandang sama seperti apa yang kamu pandang.
Kembangan, 16 'Sep 24
~sf
Komentar
Posting Komentar