Postingan

Merasa - Episode 6

   Semoga ini bukan kelakuan semua laki-laki, tapi aku, wabil khusus, selalu buruk soal percintaan. Cinta yang bukan hanya soal asmara, tapi lebih tepatnya soal mengenali dan mengolah perasaan seperti apa input dan outputnya. Ya soal asmara juga sih, wkwkwk.    Entah sejak kapan, kurasa sejak aku kecil, rasa main-main dan penasaranku selalu lebih besar dan tua ketimbang usiaku sendiri. Apa karena aku anak terakhir? Sehingga sense of responsibility-nya minim sekali. Aku tak tahu.    Aku sulit merasa. Aku sulit peka. Aku sulit meraba. Aku sulit mengambil tindakan pada tempo yang cepat. Aku sulit menangis. Aku mudah tertawa. Apa ini? Gila?     Kebiasaan untuk mengenal rasa cinta tidak aku alami, seingatku. Atau tanpa mengurangi rasa hormatku kepada keluargaku, minim sekali memori yang kuingat terkait itu. Identifikasi rasa cinta yang kudapat adalah cinta itu tabu, alay, aneh, memalukan, "tidak laki", yang berujung pada hatiku yang kini kurasa me...

Bedebah - Episode 5

     Ketimbang terus-terusan tertelungkup dalam keterpurukan, ketimbang menghabiskan waktu untuk meludahi kejadian-kejadian di masa silam, ketimbang selalu menjadikan orang lain sebagai objek untuk disalahkan, akhir-akhir ini aku sudah harus menyudahi aktifitas tak produktif itu dan berhenti berpikiran seperti bedebah lagi. Berani dan jujur mengungkapkan bahwa yang sudah, ya sudah, kemudian memroses dan merancang  what next merupakan bentuk syukur atas nikmat berupa hidup dan perangkat pendukung hidup yang sudah Tuhan berikan kepadaku, dan itu sedang kuusahakan.     Aku kecil adalah aku yang sering mendapat stimulasi nilai dan moral dari luar ; sekolah, tongkrongan, mama A'raf, Haji Soleh, dan lain-lain. Betul, hal-hal yang tidak sempat aku dapatkan di rumah karena orang tua saat itu menyayangi dan mendidikku dengan cara lain, cara mereka sendiri. Cukup sparta memang. Sangat berdampak pada psikologisku hingga saat ini. Ma, Pak, aku sayang kalian. Sehi...

Dari Sepatu Ke Sepatu - Episode 4

     Kamu pernah bayangkan berapa banyak lelah yang tersandar di pojok-pojok kereta, bahkan sampai ke tengah dan ujung kereta. Dalam kabin yang penuh dengan cita-cita, penyesalan, bahagia juga lelah yang menjadi rutinitas senin-jum'at.       Mereka yang berpakaian formal, lengkap dengan laycard dengan cepat pasti yang kita pikir "pekerjaan mereka enak dengan gaji besar" ya, kita hanya bisa melihat sekilasnya saja tanpa tau seberdarah apa dia di posisi itu.  Sepatu yang menopangnya pun kalau bisa menjerit kesakitan mungkin akan menjerit. Tentang bagaimana mereka harus bangun lebih awal sebelum matahari terbit,  meninggalkan anak yang masih terlelap, memastikan beras masih tersedia paling tidak seminggu ke depan.       Para ayah dan anaknya adalah potret yang sangat hangat selama kutemui di kabin kereta, kadang aku iri dengan mereka yang bisa begitu dekat dengan ayahnya sedang aku sendiri bahkan lupa kapan terakhir kusebut ...

Datang Dan Pergi - Episode 3

      Menariknya, dalam hidup kita gak bisa milih sama siapa akan bertemu/menetap semua seperti misterybox yang kita buka satu persatu.        'Perkenalan' adalah gerbang di mana manusia satu dan manusia lain saling memahami satu sama lain.  Saling bertukar pengalaman juga sedih-senang masing-masing awal di mana hubungan-hubungan yang erat itu dimulai.       Fase mengenal manusia itu perjalanan yang sangat panjang. Butuh waktu. Kadang melelahkan tapi juga seru dan menyenangkan, kadang menjengkelkan barangkali itu bahasa cinta Tuhan memperkenalkan karya-Nya yang disebut 'manusia'.     'Kehilangan' adalah hal klise yang sampai sekarang yang kalau diceritakan berulang kalipun rasa sakitnya masih sama. Manusia memang sulit melepaskan hal yang menurutnya familier juga melekat.  Amigdala seolah mengamuk,  menerkam kenyataan yang ada. Tapi yang paling sulit adalah menerima sesuatu yang hilang bukan hak milik....

Surat Alay - Episode 2

    Tuhan     Ternyata aku hanya manusia dan hamba yang lemah, ya.     Oleh hal-hal yang terjadi dan yang belum terjadi, dengan sikap dramatis kelas kakap aku memvonis diriku sebagai korban dari kejahatan dunia yang tak adil dan kejam. Maafkan aku, Tuhan, aku alay . Maafkan aku, karena sering lupa kalau aku adalah hamba dari Yang Maha Kuat dan Maha Penyayang. Aku sering lupa, kalau ternyata aku tidak pernah sendiri. Aku sering lupa, kalau ternyata aku tidak pernah kehilangan tempat bernaung. Lantas, kenapa aku khawatir? Kenapa aku gusar? Kenapa aku terkulai lesu?      Maafkan aku, karena sering tak menyadari cara-cara-Mu menguatkan dan menyayangiku.     -Vijan

Menjaga Surga - Episode 1

      Aku bukan anak yang baik, bukan pula anak yang berbakti, tapi aku mengerti bahwa surga ada di telapak kaki ibu. Bahkan Nabi pun menyabdakan tentang betapa mulianya pemilik tempat persembunyianku selama sembilan bulan itu. Di sisi yang lain, aku juga punya keyakinan, sebagaimana rumah tangga adalah kumpulan visi dan misi yang dibangun oleh dua insan bernama ibu dan ayah, ayah adalah sosok yang membangun tangga menuju surga itu dengan segala keringat, pedih, dan pengorbanannya. Aku yakin betul itu. Sehingga ada istilah yang berbunyi "berbakti kepada kedua orang tua."     Aku mengerti, dan setelah dewasa ini (emang udah dewasa?) aku mulai berlarian kesana kemari, aku yang tadinya hanya marah-marah karena seringkali apa yang kuinginkan tak kudapat, memberanikan diri untuk mencoba mengerti.     Mencoba mengerti mengapa mereka bertengkar, mengapa mereka tak mengantarku pada hari pertama aku sekolah, mengapa mereka tak menyelami ke dalam duniaku, menga...

Durhaka Kepada Waktu - Sebuah Prolog

     Ini adalah postingan pertama yang kurilis, enam tahun setelah aku membuat akun ini. Pasti bakal cringe , gak ada isinya. Ieu mah curhat we, nya.     Aku tipikal orang yang cukup sulit mengingat tanggal dan nama, serta terkadang menjadi kambing conge ketika teman-temanku membawaku ke masa lalu di mana mereka bisa mengingat banyak hal, banyak kejadian, banyak nama, kemudian menangis dan tertawa, sedangkan aku ... kambing conge.     Aku tidak mengerti kenapa begitu. Entah aku yang menganggap itu tidak terlalu penting, tidak kuanggap memorable , atau aku memang tidak peduli. Itu hanya kejadian kecil yang "yaudah, sih" dan ketika arus waktu itu selesai kulewati, maka yaudah, sih.     Sampai akhirnya aku menyadari bahwa aku baru saja melewati banyak episode dalam hidupku, tanpa menyimpan perasaan di dalamnya, dan sekelumit cerita yang tak bisa kuingat ulang sehingga seakan aku jadi manusia yang tiba-tiba besar tanpa pernah melewati kisah-ki...