Hak Asasi Bernama "Mimpi" - Episode 9
Agak panjang, mari kita bahas sesuatu yang menjadi drive hampir semua orang di hamparan Bumi, yaitu mimpi.
Umurku sekarang 24. Aku masih kuliah, semester akhir. Aku belum menikah. Belum punya banyak uang. Masih belum berhasil di banyak hal, masih banyak kecerobohan di banyak hal, masih bergumam pada banyak hal, dan banyak pelajaran dari masa lalu yang belum berhasil kuolah menjadi sesuatu yang menggiringku ke arah yang lebih baik.
Beberapa orang, yang kukenal dan atau mengenalku, sering melihatku seperti 'sesuatu' yang menarik mereka untuk lebih dekat denganku. Meski bibirku akan mengatakan hal yang buruk tentangku sendiri karena malas jika dibebankan ekspektasi di awal, aku juga tak ingin mengabutkan kemampuan-kemampuan yang kupunya, karena itu tetap perjalanan panjang yang nanti akan kuserahkan pada malaikat untuk dinilai. Dengan segenap perasaan dan usaha, aku akan mencoba membantu sebanyak-banyaknya orang, memberi kesan positif di sebanyak-banyaknya orang, meringankan kesulitan di sebanyak-banyaknya orang, dengan apa saja yang kubisa. Lalu, hubungannya sama mimpi apaan?
Dulu, pas kita semua masih lari-larian dan nyeker, kita selalu bercita-cita menjadi sosok yang distingtif. Tentara, dokter, astronot, pengacara, presiden, polisi, guru, dan lain-lain. Atau cita-cita nyeleneh yang pernah kudeklarasikan saat kecil adalah jadi ketua RT, dan sekelumit cita-cita lain yang pernah kita dengar. Namun, dari sekian cita-cita itu, ada berapa banyak yang mengatur jalan hidupnya menuju ke arah situ? Salah kita pas kecil karena kita cuma asbun dan malu kalo ditanya ternyata kita gapunya cita-cita? Kayaknya gak juga, bukan salah kita kalau ternyata cita-cita yang kita pernah ucap ketika kecil tak pernah terjadi, atau bahkan perjalanan menuju ke sana pun tak pernah terjajaki. Bukan salah kita, dan faktornya akan banyak sekali, tergantung jalan cerita dan latar belakang setiap masing-masing kita.
Tapi, apa sebetulnya kita benar-benar menyerah pada mimpi yang pernah kita teriakkan? Aku ingin berkata 'iya', tapi kurasa tidak ada orang yang benar-benar membunuh mimpinya. Orang-orang itu hanya mencoba untuk melupakan tanpa benar-benar melupakan, sebetulnya. Iya, nggak? Ketakutannya lebih besar ketimbang mimpinya, dan itu tak bisa disalahkan.
"Ya biarin aja, sih. Gua cuma realistis aja. Sandwich. Tulang punggung. Lagian, gua juga enjoy sama yang gua lakuin sekarang, dan siapa tau bisa jadi mimpi baru gua."
BIG AGREE.
Latar belakang orang beda-beda, tumbuh-kembangnya beda-beda, status anak-beranaknya beda-beda, dan itu valid. Apalagi tinggal di negara yang korupsi sudah jadi komoditi, ketidakadilan diaspora di sana-sini, udah mah sulit berdiri di kaki sendiri, tanah air yang dicintai malah menertawai, kan ta*.
Hingga akhirnya ada orang yang bekerja hanya untuk memenuhi senang-senangnya keliling Eropa, dan itu sah. AKU JUGA MAAAWWUUU. Ada orang bekerja agar bisa menikmati makanan-makanan lezat yang ada di dunia, dan itu sah. Ada orang yang nyopet, JANGAN. Ada orang yang tak peduli dengan uang dan hanya peduli membantu orang-orang sebisanya, sah. ASAL JANGAN NYOPET. Poinnya bukan itu.
Poinnya adalah, apa pun yang ingin dicapai ke depannya, sebuah imajinasi yang pernah ditanamkan dan berniat untuk dijalankan, maka itu adalah mimpi. Menganggap bahwa mimpi harus yang besar-besar seperti membangun sekolah, menyejahterakan rakyat, punya perusahaan, punya kekayaan tertentu adalah tidak adil karena pasti ada orang yang bermimpi bisa kerja cuma 3 hari seminggu, punya halaman di depan atau belakang rumahnya, pengen bisa makan ketoprak tiap hari tanpa harus memikirkan konsekuensinya, atau yang lain-lain. Mimpi gak selalu yang mewah-mewah, dan punya keinginan merasa cukup juga sah masuk kategori mimpi. Itu, pertama.
Kedua, bagiku, bermimpi adalah bentuk kejujuran pertama yang kita diskusikan dengan diri kita sendiri pas kita kecil. Melupakannya, menguburnya, adalah bentuk kebohongan dan melarikan diri. Kasian anak kecil itu kalo nanti ketemu kita. Ketimbang melupakannya, kenapa kita gak coba untuk membedah mimpi kita? Jangan-jangan bukan profesinya, tapi skillnya. Jangan-jangan bukan hasilnya, tapi prosesnya yang kita cari. Jangan-jangan bukan pemain bola, tapi produsen bola atau presenter bola. Jangan-jangan bukan astronot yang berkunjung ke bulan, tapi jadi peneliti di Lapan.
Aku tahu, dunia ini bener-bener gak ngasih ampun. Ujan baru reda, jalan dikit, udah ujan lagi. Bayangan yang selama ini mengikuti kita, ternyata bentuk kumpulan dari ekspektasi, harapan, kekecewaan, lelah, kebutuhan, dan ketidakberdayaan. Tapi, orang-orang kayak kita gini, kalo tanpa mimpi, bisa apa? Rasanya kayak udah mati sebelum mati.
Kawan, aku tahu, ini sulit. Tapi, demi masa depan yang tenang dan tidak terus-terusan menyesal, apalagi mewariskan kesulitan pada generasi setelah kita, mari kita susun kembali mozaik-mozaik mimpi yang pernah kita pecahkan dan terburai itu. Gak usah buru-buru, karena pelan-pelan adalah cara tercepat untuk menuju keberhasilan, agar tak ada penyesalan.
-Vijan
Kita ga pernah benar2 lari dari mimpi, dia cuma menguap menjadi bagian yang lain. Kita ga pernah benar2 berhenti dan melupakan mimpi, kita cuma cari jalan lain yang setidaknya mendekati tujuan mimpi kita. -sf
BalasHapus